Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 30 Agustus 2012


Annyeong haseyo... admin kembali mengisi blog yang suram ini . Terakhir nge-post kalo nggak salah sebelum liburan sekolah. Kini admin kembali nge-post fanfic yang sebenernya buat temen admin yang suka banget sama si Bledek alias Thunder MBLAQ. Tapi sebelumnya admin mau mengucapkan Taqobalallahu mina waminkum minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin.
Happy Reading :D

Author: Park Seorin

Cast:
Readers a.k.a Shin Riyoung
Thunder MBLAQ a.k.a Park Cheondung
Author a.k.a Cho Seorin
Seungho MBLAQ a.k.a Yang Seungho


-----Riyoung pov-----
“Young-ah!” panggil seseorang yang tak asing suaranya dari belakangku.
“Ah, Seunggi-ah. Wae gurae?” tanyaku padanya yang kemudian duduk disampingku. Hwang Seunggi, dia sahabat perempuanku yang terdekat. Sudah sejak kelas X aku mengenalnya.
“Tidak ada apa-apa. Kau tidak ada kuliah?”
“Ada. Tapi baru saja selesai. Eh, kau punya novel? Mendadak beberapa hari ini aku ingin baca novel,” kataku.
“Ada. Tapi tak banyak. Kau tahu kan peraturan di asrama itu cukup ketat? Eh, kau tidak suka novel, kan?”
“Ne(iya), tapi akhir-akhir ini kurasa aku punya ketertarikan pada novel,” jawabku sambil mengisi TSS (?). Seunggi melirik curiga padaku.
“Jangan-jangan ini efek fallin in love. Iyaa, kaaannn?” tebaknya sambil cengar-cengir. Aishh aku benci ekspresi wajahnya.
“Ani!! Jatuh cinta apa? Isshh!”
“Omoo, pucuk dicinta ulam pun tiba!” katanya. “Look!! Cheondung-oppa!” lanjutnya sok bule sambil menunjuk Cheondung yang beradius 15 m di depanku. Dia duduk di bangku putih kemudian mengambil buku dari tasnya. Dia pasti mau belajar. Memang belajar di taman cukup efektif. Jarang-jarang juga ada universitas yang menyediakan taman belajar seluas dan seindah ini.
“ Ehm!! Kau masih mengelak? Sebenarnya kau sudah lama menyukainya, kan?” Seunggi menebak-nebak lagi.
“Ne,” jawabku masih terfokus pada sosok namja tampan itu, Cheondung. Memang benar, aku menyukainya sejak aku SMA. Dia satu tahun diatasku. Tapi saat SMA dia mengambil program akselerasi. Membuatnya jadi dua tingkat lebih tinggi dariku. Kebetulan sekali aku masuk di universitas yang sama dengannya. Lumayan juga sih untuk semangat belajar ataupun sekedar cuci mata. Siapa juga yang tak tertarik dengan Cheondung? Pintar, sopan, ramah, dan pastinya tampan. Hampir sempurna, bukan? Aigo, wajahnya serius sekali membaca buku itu. Kyeopta(tampan).

Tunggu! Ada seorang wanita menghampirinya. Nugu? Chingu? Aisshh kenapa mereka tertawa-tertawa bersama? Wanita itu juga sesekali mengusili Cheondung-oppa. Apa mereka pacaran? Ani(tidak)! Ani! Pasti hanya temannya. Tapi, wanita itu manis sekali. Tubuhnya proporsional dan penampilannya juga sopan. Aigo… lama-lama aku bisa gila melihat mereka.
“Kajja(ayo)! Aku lapar sekali!” aku menarik tangan Seunggi pergi kemudian kuseret(?) ke kantin.


Kuputuskan kembali ke asrama karena kurasa tidak ada lagi yang harus ku kerjakan di kampus. Lagi pula ini juga sudah sore.
“Riyoung-ssi! Tadi kepala asrama mencarimu,” kata salah seorang temanku saat aku baru menginjakkan satu kakiku di asrama. Mwo?? Kepala asrama? Wae? Ada yang salah denganku. Cepat-cepat saja aku ke ruangannya.
“Anyyeong hasseyo,” sapaku saat masuk ke ruarangan ibu kepala asrama.
“Ah, Nona Riyeong. Duduklah! Bagaimana harimu? Menyenangkan? Pasti kau sibuk sekali karena jam sesore ini baru pulang?” tanyanya membuat keringat di keningku menembus pori-pori.
“Aku menghabiskan waktu di perpustakaan hari ini,” jawabku.
“Choayo. Ah, kita langsung saja. Nona Riyeong, tolong sekarang juga kau kemasi barang-barangmu dari kamarmu dan…,” katanya pelan-pelan. Membuat jangtungku hampir berhenti berdetak. KEMASI BARANG?
“dan segera pindah ke kamar 202,” lanjutnya. Fiuhh kukira aku akan dikeluarkan dari asrama karena suatu alasan.
“Fiuhhh… tapi, kenapa aku harus pindah?” tanyaku penasaran.
“Kau cukup lancang menanyakan itu. Tapi tak salah juga kau tahu. Salah satu penghuni kamar 202 baru saja meninggal kemarin. Karena kau hanya sendiri di kamarmu, tak ada salahnya kau pindah ke kamar itu menemani seniormu. Dia orang yang baik, tenang saja,” jelas ibu kepala. Ne, kurasa itu lebih baik daripada aku tidur sendiri di kamarku. Segera saja aku ke kamar dan bersiap ke kamar 202.


Tok.tok.tok. aku mengetuk pintu kamar 202 sambil membawa barang-barangku yang banyak ini. Kemudian pintu terbuka. Aigo!! Ini wanita yang tadi bersama Cheondung. Jadi dia teman sekamarku?
“Nugusseo?” tanyanya sopan.
“Ibu kepala asrama memintaku pindah ke sini,” jawabku supan pula. Dia membalasku dengan senyuman ramah.
“A, jadi kau teman sekamarku? Chua. Mari masuk! Oh, barangmu banyak sekali. Sini kubantu,” katanya menawarkan bantuan. Ternyata dia baik juga. Dia juga membantuku merapikan barang di lemari dan meja belajar. Dia juga mengajakku berkenalan terlebih dulu. Harusnya kan aku yang mengajakknya berkenalan. Ah, aku jadi tidak enak. Kami mengobrol cukup banyak setelah makan malam. Dia memintaku menceritakan semua hal*salok*.
“Sunbae, katanya penghuni kamar ini baru saja meninggal, jongmal?” tanyaku penasaran dengan ucapan ibu kepala asrama tadi sore.
“Ne, dia kecelakaan. Padahal dia siswi yang cukup aktif. Ah, iya, jangan memanggilku ‘sunbae’! panggil saja ‘unnie’,” katanya.
“Tapi kau seniorku. Sudah sepantasnya aku memanggilmu sunbae,”
“Ani. Aku tidak suka mendengarnya!” katanya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ia cepat-cepat mengangkatnya.
“Yeoboseyo. Cheondung-ah, wae gurae?” ucapnya di telfon. Mwo??? Cheondung??
“Apa soal yang waktu itu?” lanjutnya di telfon.
“Sepenting itu, kah? Besok aku sibuk. Katakan lain kali saja,”
“Arraseo! Arraseo! Apapun untukmu, Cheondung-ah!”
“Ne. Bye…,” unnie menutup percakapan.
“Nuguya? Nemjachingu mu, unnie?” tanyaku pura-pura tak tahu.
“Hahaha menurutmu bagaimana? Apa kami terlihat seperti pacaran?” sepertinya dia memaksaku untuk menebak-nebak.
“Sudah, lupakan saja! Kajja, sudah waktunya tidur! Selamat malam,” katanya sambil menarik selimut. Arra! Lebih baik memang kulupakan.


(keesokan harinya)


Jam makan siang selesai. Tidak ada jam kuliah lagi. Mau apa lagi, ya?
Ke taman? Ah, tidak.
Kembali ke asrama? Ah, pasti membosankan.
Nonton basket? Ah, itu ide buruk. Banyak sekali senior disana. Tapi, siapa tahu ada Cheondung-oppa disana. 
Eh, itu Cheondung-oppa? Dia masuk ke auditorium. Kebetulan sekali. Setiap aku memikirkannya pasti dia ada.
Merasukkah bisikan setan yang menyuruhku membuntutinya. Apa dia mau main piano? Wah pasti keren.
Chankkaman(tunggu)!! Seorin-unnie? Dia sudah di dalam? Dan Cheondung-oppa mendekatinya. Oppa mengatakan beberapa patah kata. Kelihatannya kata-kata itu sangat dalam hingga Seorin-unnie tampak berkaca-kaca. Bahkan sekarang Cheondung-oppa memeluknya dan Seorin-unnie semakin tersedu-sedu. Dan aku disini juga hampir tersedu-sedu. Sekarang aku yakin pasti bahwa mereka lebih dari teman. Dadaku sesak sekali melihat mereka berdua. Aku menyukai Cheondung-oppa, sangat menyukainya. Tapi awalnya aku cukup mengira bahwa ini hanya sekedar suka, bukan sampai mencintai dan berharap. Namun, mengapa kenyataan ini terasa sangat menusuk perasaanku, bahkan ke palung terdalam hatiku.
Cukup Riyoung! Tidak ada alasan lagi untuk berdiri di sini dan memandangi mereka.

-----Riyoung pov end/ author pov-----

Riyoung tampak terdiam dan gemetaran di depan pintu auditorium yang terbuka sempit. Kemudian ia pergi entah ke mana, yang jelas ia tak ingin di tempat itu lagi.
Beberapa saat kemudian seorang mahasiswa berjalan menuju auditorium. Hampir sama seperti Riyoung, dia tercengang saat melihat Seorin yang didekap erat Cheondung. Tak berlama-lama mahasiswa itu mendekati mereka berdua.
“Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku?” tanya mahasiswa itu. Seorin melepaskan diri dari pelukan Cheondung.
“Seungho-ah, aniya! Tolong jangan berburuk sangka,” kata Seorin.
“Kalian sudah tertangkap basah. Jadi, jangan berusaha mengelak lagi!” mahasiswa itu, Seungho, tampak berapi-api(?).
“Hyung, kami tidak bohong! Tidak ada apa-apa,” Cheondung membela diri.
“Jadi ini alasanmu meninggalkanku? Ne, ini yang kau inginkan. Chukkae(selamat)!” kata Seungho kemudian bergegas pergi. Tapi Cheondung berusaha mengejarnya untuk menjelaskan apa yang terjadi.


Malam harinya, Riyoung masih merenungi kejadian tadi siang. Rasanya dia ingin menjauhkan diri sejauh mungkin dengan Cheondung dan Seorin. Tapi, mana mungkin? Bagaimanapun Seorin adalah teman sekamarnya sekaligus seniornya. Selebihnya Seorin sangat menghormati Riyoung dari pertama bertemu di kamarnya.
Kemudian Seorin masuk ke kamar. Riyoung segera pura-pura tidur.
“Young-ah, kau sudah tidur, ya?” tanya Seorin dari ranjang bagian bawah. Ya, Riyoung tidur di ranjang atas.
“Aniya. Wae gurae?” Riyoung seketika berubah pikiran dan ingin mengorek-ngorek informasi*kaya ta+ aja di korek-korek*.
“Kau tahu, hari ini aku sangat bahagia!” kata Seorin bersemangat.
“Jinnja? Wae? Kau baru saja kencan dengan namjachingu mu?”
“Aniya!”
“Emm kau baru saja di peluk namjachingu mu?” tanya Riyoung berusaha menyindir.
“Ne! Bagaimana kau bisa tahu? Aigo, menyenangkan sekali. Aku serasa terbang,” terang Seorin membuat Riyoung panas.
“Ah, jongmal? Chukka unnie!”
“Ah, ne, besok kau ada acara? Bagaimana kalau kau ikut aku nonton konser piano di Central Park?”
“Emm besok sepertinya ada kuliah”
“Mwo? Yang benar saja! Besok akhir pekan. Bukankah kau pulang kampung sebulan sekali? Ayolah, pasti menyenangkan”
“Emm… baiklah kalau begitu,” Riyoung setuju.

-----Author pov end/ Riyoung pov-----

Sore akhir pekan ini Seorin-unnie mengajakku nonton konser piano di Central Park. Sebenarnya aku tidak ingin ikut, mengingat aku sedikit sensi padanya gara-gara masalah kemarin, tapi aku tak enak hati kalau menolak ajakannya.

Pukul 4 sore kami sampai di Central Park. Tapi unnie bilang dia ingin menunggu seseorang dulu. Nugu? Cheondung-oppa? Mungkin saja. Kenapa aku tidak berfikir ke arah itu? Jangan-jangan unnie tahu aku menyukai Cheondung-oppa dan sengaja ingin memanas-manasiku? Aigo…
Benar saja! Cheondung-oppa tampak dari kejauhan di kerumunan orang. Unnie memanggilnya.
“Mian, aku terlambat,” Cheondung oppa minta maaf pada Seorin unnie.
“Ne, lain kali kau harus lebih tepat waktu!” kata Seorin unnie. “Ah, iya, aku bawa temanku sekamar. Dia junioryang kuceritakan,” unnnie mengenalkanku pada Cheondung oppa. Kemudian kami masuk ke auditorium tempat konser piano.


Pertunjukan yang mengagumkan. Semua mata penonton tertuju ke stage. Sebenarnya hanya pertunjukan sederhana, tapi music yang mereka mainkan sangat memukau.
Seusai konser kami keluar dari auditorium. Cheondung oppa mengajak kami makan bimbimbab. Tapi, seketika saja seorang pemuda yang lumayan tampan menghadang(?) kami saat berjalan. Penampulannya sangat maskulin. Dengan kaos putih juga jaket kulit membuatnya terlihat macho. Sepertinya aku pernah melihat dia.
“Kalian mau bermain di belakangku lagi?” katanya. Mwo? Apa maksudnya.
“HYA!! Kau mau membuat masalah lagi?” tanya Cheondung oppa sedikit galak.
“Mwo? Panggil aku HYUNG! Kau ini beraninya mengajak yeojachingu ku main-main di sini! Seorin-ah, kajja!!” kata pemuda itu kemudian menarik pergelangan tangan Seorin-unnie. Sebenarnya ada apa ini?
“Lain kali kau harus minta ijin dariku dulu! Ah iya, kau pergi saja dengan yeoja di sampingmu itu,” lanjut pemuda itu sambil melihat ke arahku lalu pergi bersama Seorin-unnnie.
“Young-ah, kau bersama Cheondung dulu, ya?” kata unnie dari kejauhan. Aku sedikit hening dengan kejadian. Sebenarnya apa ini??
“Kajja! Kita makan saja!” Cheondung oppa mengajakku makan di resto tak jauh dari tempat kami berdiri.


“Kau pasti bingung dengan kejadian tadi,” kata Cheondung oppa setelah memesan makanan.
“Ne. Sunbaenim(senior), sebenarnya ada apa? Siapa pria tadi?”
“Dia Seungho, tadi dia main piano juga di konser. Namjachingu-nya Seorin-unnie”
“Ah iya, pantas wajahnya tak asing. Dia pintar sekali bermain piano. Lalu, apa maksud perkataannya tadi?”
“Singkatnya, dua hari yang lalu Seorin-unnie mamutuskan hubungannya dengan Seungho karena dia merasa bersalah pada Hyerin, teman sekamarnya yang meninggal beberapa hari yang lalu. Hyerin sangat menyukai Seungho, tapi Seungho mencintai Seorin sejak dulu dan menolak cinta Hyerin,” jelas Cheondung oppa panjang kali lebar.
“Lalu apa hubungannya denganmu?”
“Kemarin Seungho-hyung melihat aku memeluk Seorin-unnie, dia hampir salah paham. Sebenarnya aku hanya ingin menenangkannya. Kemarin Seorin-unnie bilang kalau dia sangat menyesal memutuskan Seungho-hyung. Dia menangis tersedu-sedu, tidak mungkin aku membiarkannya. Lagi pula aku sudah menganggapnya seperti unnieku sendiri. Tidak mungkin kami main serong. Untunglah kesalahpahaman ini sudah selesai,” ujar Cheondung-oppa. Aigo… ku kira mereka pacaran! Syukurlah. Rasanya aku ingin terbang sekarang.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanya Cheondung-oppa yang melihatku tersenyum.
“Aniyo. Hanya saja cerita tadi seperti di novel. Hahaha… seru sekali,” alibiku. Sebenarnya aku tertawa karena aku senang tidak ada hubungan antara Cheondung-oppa dengan Seorin-unnie.
“Ah, begitu. Ah, iya, bukankah kau dulu juniorku juga di SMA. Kau tidak ingat?” tanya Cheongung-oppa. Mwo? Dia ingat aku? Jongmal??
“Jongmal? Aku tidak ingat,” kataku pura-pura lupa.
“Benarkah kau tidak ingat? Aku pernah membantumu saat kau salah masuk ke ruang ganti pria, kau lupa?” JGLEERRRR!! Aku baru ingat kejadian itu. Ya, dulu dia memang membantuku.
“J Jin Jinjja?? Aku lupa, benar-benar lupa. Kau yakin itu aku?” aku masih pura-pura lupa.
“Aigo, kau pelupa! Aku ingat sekali kejadian itu. Tiba-tiba kau masuk ke ruang ganti pria, kau hampir melihatku ganti baju juga. Untung saja hanya ada kita berdua. Lalu teman-temanku datang dan aku membantumu bersembunyi. Dasar kau ini pelupa!” jelas Cheondung-oppa. Aigo… aku tidak menyangka dia masih mengingatku. Entah seberapa kuat ingatannya, aku berharap kami akan lebih dekat mulai saat ini. Hahaha… at last, aku masih tetap mengaguminya sampai sekarang. Nae sunbae, saranghaeyo.

Sekian ff karya saya. Rada aneh, ya? Mian kalo readers kecewa, ya, soalnya auhtor masih pemula. Yang ingin meninggalkan commentnya silakan, atau kalo gagal comment disini bisa mention saya @ssekar48 (bukan member JKT 48 lho). Atau kalo nggak mau comment juga nggak papa. Saya nggak terlalu membersar-besarkan silent readers. Gamshamnida :)

Jumat, 16 Maret 2012

Fanfic "Firework"


anyeong, iseng-iseng aja buat ff. Happy reading:D

Cast:
Readers a.k.a Park Seo Rin
Yang Seung Ho (MBLAQ) a.k.a Yang Seung Ho

---author pov---
Waktu menunjukkan pukul 08.30. Suasana pagi di Seoul University seperti hari-hari sebelumnya. Di kantin juga cukup lenggang. Kantin yang nyaman dengan tata letak taman. Banyak pohon maple rindang yang menaungi beberapa meja.  Maklum saja, Seoul University mendapat predikat Green School. Angin bertiup tak terlalu sepoi, biasa saja*apa deh maksudnya*.
Seperti biasanya(lagi), meja ujung di padati pelanggan, yaitu meja khusus 5 pria yang cukup popular di kampus yang mengaku dengan sebutan MBLAQ. Cowok-cowok keren dan kece yang bisa dikategorikan paling berisik di kampus. Seungho, GO, Mir, Thunder, dan Leejoon, itulah kelima cowok kece itu. Kecuali Seungho dan GO, mereka semester 2, sementara Seungho dan GO semester 4. Diantara mereka Thunder yang paling muda. Dia sering menjadi bulan-bulanan yang lain. Mir yang paling autis, dan Seungho yang paling sombong dan menyebalkan diantara semuanya.

---Seorin pov---
Hari ini tidak ada jadwal kuliah. Tapi, kuputuskan pergi ke kampus berhubung Hyomin dan Jieun masuk. Hyomin dan Jieun adalah teman satu kost ku. Em, bukan kost, tepatnya itu rumah yang kami sewa selama kami kuliah. Mereka masuk kuliah seperti biasa, bahkan Hyomin kuliah penuh. Ya, walaupun akhirnya nanti aku hanya menghabiskan waktu di perpustakaan, tapi kurasa itu lebih baik daripada di rumah termenung seperti orang cengoh.
Emm, tunggu, ngomong-ngomong Seungho oppa ada kuliah tidak? Mungkin aku bisa menghabiskan waktu bersamanya. Ok, aku sms saja dia.
“Oppa, kau ada kuliah hari ini?”

“Ne, waeyo?”

“Kupikir tidak ada. Rencananya aku mau mengajakmu kencan”

“Kau ini. Kencan saja yang kau fikirkan. Belajarlah!” Mwo?? Balasan macam apa ini?

“Kau menyebalkan”

“Hei hei, ada apa denganmu?”

“Gwenchana”

“Dasar kau ini! Mengganggu saja, aku sedang sibuk”

Hhh, selalu cacian ini yang kuterima. Menyebalkan sekali. Bisakah dia mengerti perasaan wanita? Ck… padahal sudah 6 bulan pacaran dengannya tapi kenapa juga kami tidak bisa harmonis seperti pasangan sekarang. Padahal aku sering memancingnya. Atau aku tak mengerti umpan yang cocok untuknya? Apa aku seperti memancing cupang dengan daging. Ah, bukan. Dia itu hiu. Berarti seperti memancing hiu dengan rumput laut. Ah, sudah! apa-apaan aku ini. Kenapa jadi memikirkan pancingan. Lebih baik aku segera berangkat karena Jieun dan Hyomin pasti sudah menunggu di kantin untuk sarapan. Jarak dari rumah sampai kampus tidak terlalu jauh, hanya sekitar 25 km. Hahaha… aku bercanda. Hanya 500m.

Sesampainya di kampus aku langsung menuju kantin dimana Jieun dan Hyomin sudah menungguku. Aku melihat mereka melambaikan tangan kearahku dari meja biasanya. Ah, ternyata mereka sudah memesankan ice cream untukku. Hhahh… apa-apaan mereka. Mana ada orang sarapan dengan ice cream. Aku berjalan kearah mereka dan aku melihat meja tak jauh berisi anak-anak gila, MBLAQ. Seungho oppa ada disana. Hah? Bukannya dia bilang ada kuliah dan sedang sibuk. Sibuk apa? Itu membuatku sedikit kesal.
“Kenapa wajahmu kusut begitu?”, tanya Hyomin. Aku melihat kearah meja Seungho oppa.
“Aku heran, kenapa kalian itu selalu saja begini”, Jieun melihatku memelas.
“Entahlah”, jawabku.
“Tunggu dulu. Bukankah kalian tidak pernah kencan?”, tanya Jieun. Aku menggeleng.
“Nonton, makan, jalan-jalan, juga tak pernah?”, Hyomin memastikan. Aku juga menggeleng. Kemudian mereka berdua juga ikut menggeleng(?).
“Aku sudah berkali-kali mengajaknya. Tapi, kalian juga pasti tahu jawabannya”, jawabku galau.
“Kalau kau bosan putuskan saja! Akan aku carikan yang baru, kau tahu teman-teman Kyuhyun? Mereka itu 100 kali lebih kece dari Kyuhyun”, Jieun mengusulkan. Lalu Hyomin menjitak kepalanya, “SStt”.
“Kau mencintainya?”, tanya Hyomin. Aku mengangguk lagi. Kemudian ku lihat kearah Seungho oppa, dia beranjak pergi meninggalkan teman-temannya.

---author pov---
“Heh, hyung! Itu yeojachingu mu. Berilah salam untuknya, atau setidaknya senyuman. Kau ini tidak romantis!”, cletuk Thunder. Seungho melihat kearah Seorin yang sedang mengangguk pada kedua temannya.
“Jangan terlalu jaga image! Bagaimanapun dia yeojachingu mu”, sahut GO.
“Apalah arti sebuah sapaan”, jawab Seungho santai.
“Haish, kau pasti tidak tahu cara menyenangkan hati wanita. Kalau aku jadi kau akan kubuatkan puisi cinta. Bintangku, janganlah kau melayu jika tak ku sapa. Janganlah kau meratap jika tak ada sms dariku. Ingatlah saja bagaimana besar cintaku untukmu. Haruskah ku tanyakan pada venus cintaku? Haruskah kuarungi Atlantic untuk membuktikannya. Ketahuilah cintaku lebih agung dari dan tinggi dari Mount Evrest”, Mir mengusulkan puisi dengan lebaynya yang khas dilengkapi mimmik wajah yang langka(tau deh itu udah lebay belum).
“Sumpah ya, bisakah kau menutup mulutmu!”, sahut Joon. Terlihat yang lain nggong melihat Mir.
“Hyung, perhatikanlah dia. Sekedar sapaan bisa jadi sesuatu yang amat penting bagi seorang wanita jika itu dari orang yang di cintainya”, kata GO. Mendengar kalimat itu sepertinya Seungho sedikit tidak nyaman. Raut wajahnya terlihat kesal. Mungkin karena dia bukan orang yang bisa seperti itu.
“Aku baru ingat ada janji dengan Dongwoon di auditorium. Bye!”, Seungho pergi begitu saja.
“Kalau begini pihak wanita yang di rugikan”, kata Mir selepas Seungho pergi.

Tak lama kemudian Jieun dan Hyomin berpamitan karena mereka ada jadwal kuliah. Di tinggallah Seorin sendiri. Tiba-tiba Thunder dan GO menghampirinya. Mereka sedikit banyak bercengkrama. Lalu, Thunder menyinggung soal Seungho, “Seorin, soal Seungho jangan terlalu di pusingkan. Dia itu memang begitu”.
“Gwenchana. Aku mengerti. Dia itu memang begitu”, jawab Seorin tersenyum.
“Tak perlu menyembunyikan dari kami! Katakana saja”, GO.
“Benar tidak apa-apa. Dari awal aku sudah berjaga-jaga dengan keadaan seperti ini”, Seorin masih tersenyum. “Em, kalau begitu aku ke perpustakaan dulu, ya. Bye!”, lanjutnya kemudian pergi.
“Dalam hati pasti juga kesal. Kasihan!”, Thunder.
“Urusan satu ini aku benar-benar tidak mengerti dengan Seungho”, kata GO.

Di perpustakaan Seorin hanya membaca-baca buku. Bukan membaca, tapi melihat-lihat. Membolak-balik halaman. Terlihat sekali dia sangat bad mood.
“Bahkan dia tak menghubungiku saat dia melihatku tadi. Kenapa dia itu?”, gumam Seorin dalam hati. Tak disangka ternyata Seungho juga ada di perpustakaan. Dia sedang mencari-cari buku di rak yang berada tak jauh dari Seorin. Setelah menemukan buku yang di carinya dia duduk di depan Seorin. Dia sama sekali tak menyadarinya. Seorin terus membolak-balik bukunya, hal itu mengganggu Seungho. Seungho melihat orang di depannya. Betapa kagetnya saat ia melihat bahwa itu adalah Seorin, tepat sekali karena Seorin juga baru menyedari bahwa orang di depannya adalah Seungho.
Wajah mereka berdua sama-sama kosong. Seorin yang berdebar-debar terlihat canggung. Dia mencoba memulai pembicaraan, “Kau tidak ada kuliah?”. Namun Seungho segera menutup bukunya dan pergi tanpa menjawab pertanyaan Seorin. Itu membuat perasaan Seorin semakin tidak nyaman. Dia mengikuti Seungho keluar dari perpustakaan. Di lorong yang cukup sepi Seorin mengejar Seungho.
“Seungho dengarkan aku!”, Seorin menahan lengan Seungho. “Apa yang terjadi padamu?  Bisakah kau bersikap sewajarnya padaku?”, Seorin terlihat kesal. Seungho melihat tangan Seorin yang memegang tangannya. Seorin segera melepaskannya.
“Sewajarnya bagaimana? Harusnya kau yang bersikap wajar!”, balas Seungho.
“Hhh… apa maksudmu?”, Seorin balik bertanya. Dia tak mengerti apa yang di ucapakan Seungho.
“Ah, sudahah! Pergilah! Aku tidak ada waktu untuk urusan semacam ini!”, kata Seungho dingin. Lagi-lagi dia pergi tanpa menghiraukan Seorin. Seorin yang mendengar kata-kata Seungho barusan merasa sangat terpukul. Sekali lagi dia mengejar Seungho dan menahan tangannya.
“Katakan sejujurnya! Apa artinya aku bagimu? Apa pengaruhku bagi hidupmu? Kenapa kau melakukan ini padaku?”, tanya Seorin dengan tatapan dalam. Terlihat dia mengisyaratkan sakit yang mendalam.
“Kumohon, jangan bersikap kekanak-kanakan”, Seungho menutup pembicaraan. Dan sekali lagi Seungho meninggalkan Seorin seolah-olah tak memperdulikannya. Dan lagi-lagi Seorin menahannya. Kali ini bukan meminta menjelasan, tapi… PLAKK. Dia menampar Seungho dan pergi. Matanya tampak berkaca-kaca dan penuh amarah.
Seorin memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah dia termenung di sofa. Dia masih tebayang-bayang kajadian barusan. Dia tak menyangka hubungannya dengan Seungho berjalan seburuk itu. Dia berusaha sebaik mungkin menjaga perasaannya tehadap Seungho. Tak mudah baginya berhubungan sekaku itu. Jangankan kencan, berbicara 4 matapun mereka tak pernah. Dia berfikir dengan kesabarannya Seungho bisa sadar. Tapi ternyata itu membuatnya semakin jauh.

@MBLAQ’s dorm
“MWO?? Kau?? Aigo… apa yang ada di fikiranmu? Kenapa kau bisa melakukan itu?”, Mir emosay.
“Kau keterlaluan!”,  Leejoon.
“Kau tidak seharusnya begitu!”, GO.
“Cobalah mengerti, hyung!”, Thunder.
“Berhentilah menyalahkanku! Bantu aku mencari jalan keluar!”, Seungho kesal.
“Jalan keluar apa? Bukannya ini yang kau inginkan?”, GO.
“Apa maksudmu?”, Seungho.
“Bukankah kau memang ingin melepaskannya?”, Mir.
“Mwo? Mana mungkin aku begitu. Aku sama sekali tak ada niat untuk itu!”, bantah Seungho.
“HYA!!! Kau ini bagaimana sih? Lalu kenapa kau menyakitinya? Babo!!”, Leejoon tak kalah emosi.
“Aku tidak bermaksud! Aku hanya tidak ingin dia berlebihan. Nonton, kencan, jalan-jalan, apa itu? Itu tidak ada gunanya!”, kata Seungho.
“Aigo!! Bagaimana disebut pacaran tanpa semua itu? Asal kau tahu, itu adalah bumbu untuk menjaga hubungan kalian. Kau terlalu menganggap semua itu tabu! Itulah yang membuatmu menyakitinya. Semua kau anggap akan baik-baik saja! Tidak semua orang bisa berfikir sama denganmu. Sudah 6 bulan dia menahan perilakumu. Dia mencoba berfikir sepertimu, berfikir semua akan baik-baik saja. Tapi ternyata itu membuatmu semakin tak peduli”, jelas Mir panjang kali lebar(?)(sejak kapan Mir bijak gini?). Kata-kata Mir sedikit menyadarkan Seungho. Mungkin dia benar.

@Han River
“Hhh… mana Jieun dan Hyomin? Kenapa mereka lama sekali? Fuuhhh”, kata Seorin sendirian di bangku sekitar sungai Han. Dia sudah menunggu lebih dari setengah jam. Jieun dan Hyomin mengajaknya makan malam dan berjanji bertemu di sungai Han.  Tapi mereka tak kunjung datang.
“Apa mereka tidak tahu kalau disini dingin?”, gerutu Seorin menggosok-gosok kedua tangannya untuk menghangatkan tangan.
“Seorin”, seseorang menyentuh bahu Seorin yang sedang duduk. Dia berbalik. Rupanya itu Seungho. Wajah Seorin mendadak masam. Tanpa pikir panjang dia beranjak pergi. Seungho menahannya.
“Dengarkan aku!”, Seungho menahan lengan Seorin. Seorin mencoba melepaskannya tapi dia tidak kuat melepaskannya.
“Lepaskan! Pergilah! Aku tidak mau berdebat”, Seorin mencoba tenang. Seungho segera menarik Seorin ke pelukannya.
“Mianhaeyo! Jeongmal mianhaeyo! Katakan apapun yang kau inginkan. Marahlah padaku! Tapi maafkan aku”, Seungho memeluk erat-erat Seorin. Seorin terisak dan mencoba melepaskan diri.
“Kenapa aku selalu menolak saat kau mengajakku keluar, kenapa aku selalu mengalihkan pembicaraan, kenapa aku dingin padamu, kenapa aku tak pernah menyetuh tanganmu, dan kenapa aku tak mau menatap matamu, itu karena aku tak punya keberanian padamu. Aku takut setiap kali dekat denganmu. Aku selalu membatu. Itulah alasannya kenapa aku selalu menghindar darimu. Jantungku selalu memompa darah lebih cepat saat mengingatmu”, Seungho melekatkan tangan Seorin ke dadanya. Seorin mencoba menahan air matanya.
“Mianhaeyo, jeongmal mianhae! Uljima!”, Seungho sekali lagi memohon.  “Aku janji aku akan berubah”, lanjutnya. Kemudian Seorin menatapnya sambil tersenyum haru.
“Jangan berubah! Jangan pernah berubah! Tetaplah menjadi Seungho yang seperti ini”, Seorin menambahkan. Seungho juga tersenyum, seolah-olah dia tahu pasti Seorin sudah memaafkannya.
“Waeyo? bukankah kau tidak suka aku yang arogan seperti ini?”, Seungho. Seorin menggeleng.
“Aku lebih tidak suka kau berubah menjadi pria yang ramah. Kau tahu kenapa? Karena saat itu akan banyak gadis-gadis yang mengejarmu. Hahaha”, jelas Seorin. Seungho yang melihat senyuman Seorin sontak lupa dengan apa yang terjadi.
“Ehm, jadi kau memaafkanku?”, Seungho memastikan.
“Asalkan kau mau mengendongku sampai rumah”, Seorin.
“Hahaha… apapun untukmu”, Seungho mebelakanginya dan menyiapkan punggungnya untuk Seorin. Naiklah Seorin ke punggungnya *engga ambigu*. “Haish… kau berat juga”, gerutu Seungho.
“Ternyata kau bisa romantis juga. Lusa di kebun raya ada harimau Sumatra dari Indonesia*ya iyalah dari Indonesia*. Kita bersama, ya?”, goda Seorin.
“Hhh… aku lebih tertarik untuk kencan saja”, Seungho.
“Ayolah…”, merengek. “Sudah… jangan mulai lagi”, Seungho kesal. Mereka terlihat berbeda dari biasanya. Bercanda dengan Seorin yang digendong oleh Seungho.


@Han river
Sementara itu, Mir, Thunder, GO, Leejoon, Hyomin, dan Jieun marah-marah karena dilupakan oleh Seungho. Awalnya Seungho meminta mereka menyiapkan kembang api untuk Seorin, tapi malah Seungho meninggalkan mereka. Hhh rupanya Seungho lupa.
“Hhh… apa boleh buat. Kita nyalakan saja sendiri dan berpesta,” usul Mir.
Alhasil mereka menikmati malam mereka sendiri tanpa Seorin dan Seungho. At last, happy ending.

Thanks for your attention. Don’t be silent readers! Mian kalo jelek & biasa aja. mian lagi kalo ngga nyambung sama judulnya :D

;;

Template by:
Free Blog Templates